Langsung ke konten utama

Pendakian Gunung Ungaran ( Via Gonoharjo - Medini )


"Segala sesuatu membutuhkan proses, mulai dari nol hingga tak terhingga, mulai dari langkah pertama hingga banyak langkah."

Menurut saya, Gunung Ungaran merupakan sebuah gunung yang tepat bagi kita (baca : pendaki) untuk memulai langkah pertama. Selain jarak tempuh yang tidak terlalu lama dan tidak terlampau jauh, Gunung Ungaran telah ‘menyiapkan’ berbagai variasi medan yang akan memaksa tubuh untuk beradaptasi dan menjadi terbiasa. Dan tentunya bonus pemandangan alam khas area pegunungan yang akan menyegarkan mata, pikiran dan hati.

Gunung Ungaran berada di Kabupaten Semarang – Kabupaten Kendal. Memiliki 3 jalur pendakian yang dapat dipilih sesuai selera yakni :
  1.   Jalur Pos Mawar (Jimbaran)
  2.  Jalur Candi Gedong Songo
  3.  Jalur Gonoharjo – Medini

Pada tulisan ini, saya akan membahas Jalur Gonoharjo – Medini terlebih dahulu.

Jalur Gonoharjo – Medini merupakan jalur pendakian yang masuk wilayah administratif Kabupaten Kendal. Merupakan sebuah wilayah perkampungan yang didominasi persawahan, perkebunan dan area wisata. Untuk mencapai jalur ini ada beberapa cara (dengan asumsi menggunakan kendaraan pribadi)
  1. Jika dari arah Solo atau Jogja, jika telah sampai daerah Ungaran, perhatikan rambu penunjuk jalan. Pastikan anda belok ke arah kiri menuju daerah ‘Gunung Pati’. Jalan menuju daerah Gunung Pati terdapat di depan RSUD Ungaran. Dari arah Gunung Pati jalan terus, hingga mencapai Terminal Cangkiran.
  2.  Jika dari arah Semarang, arahkan kendaraan anda menuju daerah ‘Boja’. Perhatikan rambu penunjuk jalan. Jika telah menemui Terminal Cangkiran, maka pastikan anda berbelok kiri. Karena jalan menuju ‘Gonoharjo’ berada persis di samping terminal Cangkiran.

Jika sudah sampai di daerah Gonoharjo (merupakan area wisata, dikenal juga dengan nama ‘Nglimut), anda dapat memarkirkan kendaraan anda di area parkir atau tetap memacu kendaraan anda ke arah Desa Medini. Jika anda membawa mobil, gunakan Jalan Promasan untuk sampai ke Desa Medini. Trek Gonoharjo ke Desa Medini terbuat dari makadam (batu kali yang disusun serapi mungkin), naik dan turun, dengan waktu tempuh 30 – 60 menit. Pastikan kendaraan dalam kondisi sehat, karena sesungguhnya akan sangat menyusahkan apabila kendaraan anda rewel di tengah jalan. Percayalah J.

Apabila berhasil, maka anda akan sampai di pos penjagaan, dimana anda harus lapor dan membayar retribusi ( sekitar Rp 3.000 ). Dan selang 5 menit dari Pos Jaga, setelah jalan yang menanjak, maka anda telah sampai di Desa Medini. Sebuah desa kecil yang sederhana, di tengah hamparan kebun teh dan sejuknya hawa khas dataran tinggi.

Anda dapat beristirahat atau memesan makanan di basecamp, yang terletak di belakang masjid Medini. Jika akhir pekan, banyak pengunjung yang datang ke Medini. Entah untuk camping ceria, jalan – jalan santai atau sekedar menikmati hawa segar tanpa polusi di pedesaan. Jadi jangan takut kelaparan karena banyak warung dan pedagang jajanan yang mangkal disini.

Medini – Promasan


Jika anda akan membawa kendaraan anda ke Promasan, ikuti saja jalan makadam yang telah tersusun rapi. Tapi sekali lagi, pastikan kendaraan anda sehat dan kuat, pastikan pula pantat dan kaki anda dalam kondisi terbaik. Jarak tempuh sekitar 1 jam dengan melewati areal perkebunan teh.

Jika anda berjalan kaki, maka ada dua rute yang dapat ditempuh. Yakni mengikuti jalan kendaraan atau melewati jalan setapak. Saya biasanya menggunakan jalan setapak yang memotong bukit dan masuk ke hutan karena lebih menyenangkan untuk keadaan kaki dan waktu tempuh yang tidak terlalu lama, sekitar 1 – 2 jam saja.

Oke, ketika itu saya, bersama beberapa kawan (sekitar 5 orang), memulai perjalanan dari Medini pada 13.00. Perjalanan diawali dengan menyusuri jalan makadam di tengah – tengah perkebunan teh, jalan ini berada persis di depan masjid Medini. Sekitar 20 menit berjalan, terdapat percabangan jalan. Sebelah kiri berupa jalan tanah menuju arah hutan dan sebelah kanan berupa lanjutan jalur makadam. Sudah tersedia patok penunjuk jalan, sehingga petunjuknya jelas.
"Jalur Makadam di Antara Pohon Teh"

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati area hutan, dimana kondisi masih cukup rimbun dan melewati aliran sungai kecil yang cukup deras airnya. Mulai dari sini perjalanan akan cukup menanjak, tapi tidak terlalu sadis kok. Perjalanan menembus hutan dengan berbagai varian tanjakan akan memakan waktu sekitar 30 – 45 menit saja. Tergantung banyak sedikitnya beristirahat tentunya, he he he.


Menikmati perjalanan merupakan salah satu cara melupakan rasa lelah. Setelah berhasil menembus hutan dan mendaki bukit, maka kita akan kembali berada di areal perkebunan teh. Perjalanan akan kembali ke jalur makadam keras. Jika menemukan percabangan jalan, ambil ke arah kiri. Iya, kiri.

Nah, cukup mengikuti jalur berbatu tajam ini selama 30 menit maka kita akan sampai di Promasan. Sebuah perkampungan di tengah perkebunan teh, berada di lembah dan hanya ditinggali tidak lebih dari 30 KK. Promasan merupakan sebuah pemukiman bagi Bapak / Ibu pemetik daun teh, dimana kampung ini sudah berdiri cukup lama (dari masa penjajahan Belanda-Jepang). Promasan memiliki masjid dan sarana MCK yang dapat digunakan oleh pengunjung, jika ingin memesan makanan dapat mengunjungi Basecamp Pak Min.

Promasan – Puncak Ungaran

Seingat saya, pukul 15.00 kami sudah berada di Promasan dan siap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, karena memang pada saat itu rencana kami adalah mendirikan tenda di sekitar puncak. Namun di lain kesempatan, saya pernah menginap di rumah warga (membayar 3.000 per orang) dan melakukan summit sekitar jam 3 pagi. Atau dapat juga mendirikan tenda di area kampung, karena banyak spot yang bisa digunakan.

Oke, kembali ke rencana.

Kami memutuskan untuk segera berjalan, agar kami telah mendirikan tenda ketika gelap datang. Kembali saja langkah kaki kami menapaki susunan batu kali yang terpasang sedemikian rupa. Sekitar 10 menit berjalan, terdapat pertigaan jalan, yang merupakan pertemuan dengan jalur via Pos Mawar. Dari pertigaan, kami berbelok ke arah kanan, yang tentu saja menuju puncak. Selang beberapa saat, sesuai papan penunjuk arah, kami berbelok kiri. Mulai dari titik ini, perjalanan penuh keringat akan segera dimulai.

Jalan menanjak beralaskan tanah coklat yang cukup lembut, dengan naungan pohon – pohon rindang berhiaskan semak dan ilalang. Semakin ke atas, vegetasi akan semakin rimbun, semakin asyik dan semakin tenang. Tak jarang pula sekawanan monyet akan muncul di atas pohon. Tak jarang pula beberapa batang pohon yang tumbang melintang di jalur pendakian. Setelah berjalan selama 60 - 90 menit, vegetasi akan mulai berkurang dan batu – batu kerikil akan menjadi alas pijakan. Tidak ada pos – pos pendakian, tapi ada beberapa spot yang bisa dijadikan peristirahatan.
"Pemandangan dari Tebing Tinggi"

Pandangan akan mulai terbuka ketika kita telah sampai di sebuah tebing tinggi, dimana panorama akan membuat anda untuk duduk sejenak dan terpesona. Mulai dari sini, rumput ilalang akan mendominasi dan pendakian akan segera usai. Tepat setelah tebing tinggi, terdapat sebuah tanjakan berbatu yang cukup menantang, dan kami panjat batu batu tersebut. Sesampainya diatas, kita masih akan melewati 2 – 3 tanjakan lagi sebelum bertemu dengan Puncak Ungaran. Jika sudah terlihat dua bukit berdampingan dengan rerimbunan pohon di antara keduanya, maka puncak sudah dekat.

"Rerimbunan Pohon di Antara Dua Bukit"

PUNCAK

Selamat ! Sekitar pukul 17.00 atau menjelang senja, kami berhasil berdiri di Puncak Gunung Ungaran. Lelah tentu saja, baju basah terkena keringat menjadi lebih dingin terkena angin semilir. Kebetulan tidak ada pendaki lain di atas sini sehingga kami masih leluasa untuk menentukan tempat mendirikan tenda. Segera saja tenda berdiri dan sambil mengisi tenaga, kami menunggu malam. Kala matahari terbenam, makan malam dan minuman hangat segera disajikan untuk mengisi perut yang berbunyi. Jika kondisi cerah, kerlip bintang dan cahaya bulan sudah cukup untuk menerangi malam. Ditambah pancaran lampu kota Semarang, Ungaran dan Salatiga yang terlihat di kejauhan. Tentu saja, hawa dingin dan angin malam akan menjadi teman malam ini.

Kebetulan, kami mendirikan tenda di puncak, sehingga ketika sang surya mulai nampak, kami hanya perlu keluar dari tenda dan berdiri tepat di arah matahari muncul. Jika cuaca cerah, sunrise di Puncak Ungaran amat jelas, ditambah bonus pemandangan Rawa Pening dan bentangan alam gunung Ungaran di sisi lain. Mengisi pagi hari yang cerah, sarapan dan minuman hangat menemani kami. Pukul 08.00 cuaca sudah mulai panas, waktunya untuk berkemas kemas. Kami akan turun menggunakan jalan yang kami lalui kemarin, sehingga akan bertemu dengan trek yang sama lagi. Waktu tempuh perjalanan pulang, biasanya akan lebih cepat dari waktu berangkat.

"Sunrise Ungaran"

Alhamdullilah.


Kesimpulan
  1.  Jika ingin melewati jalur ini, lebih baik jika membawa kendaraan pribadi sehingga memudahkan dalam mobilitas.
  2.  Jika ingin berkemah, di Medini atau Promasan banyak spot yang bisa digunakan. Atau langsung jalan ke puncak.
  3.  Total perjalanan dari medini sampai puncak sekitar 4 jam (jalan santai).
  4.  Cocok untuk pendaki yang sedang dalam masa pertumbuhan, ehe.





Komentar